Gambar







Komitmen-komitmen kertas untuk industri Indonesia

(03/10/2012) Kelompok Asia Pulp & Paper (APP) Indonesia telah menjadi sasaran banyak LSM selama bertahun-tahun karena dugaan dampak negatif terhadap hutan tropis. Hal ini memuncak dalam kampanye spektakuler yang diluncurkan oleh Greenpeace pada tahun 2011 berdasarkan Ken Barbie "dumping". Alasannya adalah bahwa mainan bermerk Mattel dituduh menggunakan produk kertas APP yang terkait dengan tebang habis hutan alam di kepulauan Indonesia. APP mengadakan serangan balik di media dengan penerbitan harian iklan yang mempromosikan praktek pembangunan berkelanjutannya. Wartawan dari seluruh dunia juga diundang untuk menghadiri tur konsesi APP untuk menunjukkan upaya konservasi mereka, dan sejumlah artikel yang kemudian ditulis sesudah itu.


Kontroversial perusahaan pulp dan kertas jaminan paviliyun perubahan iklim Indonesia di Durban

(03/10/2012) Sebuah proporsi yang signifikan dari 3,3 juta USD paviliyun Indonesia pada pembicaraan iklim di Durban didanai oleh perusahaan paper dan kertas, laporan dari Reuters AlertNet.


Picture of the Day, hewan yang kurang dikenal: Kedih

(02/13/2012) Dengan warna bulu yang jelas dan ekspresi tenang terkadang nyaris melankolis, kedih (Presbytis thomasi) adalah salah satu primata Asia yang kurang dikenal. Kedih hanya ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia. Monyet ini menjelajahi hutan mencari buah dan bunga, dan kadangkala juga makan siput, jamur, serta batang kelapa. Spesies ini kurang dikenal dibandingkan dengan beberapa primata lain di dunia.


Amerika menukar utang untuk pelestarian hutan hujan di Indonesia

(11/28/2011) AS memaafkan utang sebanyak 28.500 dollar Amerika ke Indonesia untuk upaya pelestarian hutan di Kalimantan, Borneo Indonesia. Program utang-untuk-alam (debt-for-nature program) adalah bagian dari US Tropical Forest Conservation Act (TFCA).


Apakah Indonesia kehilangan asetnya yang paling berharga?

(06/29/2011) Jauh di hutan hujan Kalimantan Malaysia di akhir tahun 1980-an, para peneliti mendapat penemuan luar biasa: kulit dari sejenis pohon rawa gambut menghasilkan ekstrak dengan keaktifan anti-HIV yang kuat. Tetapi ketika para ilmuwan kembali ke lokasi tersebut untuk mengumpulkan tambahan materi untuk analisis, mereka terkejut karena pohon itu, dan harapan yang dijanjikannya, hilang. Hilangnya pohon itu memicu kepanikan untuk bergegas menemukan tambahan spesimen. Akhirnya, sebuah pohon yang dikoleksi 100 tahun sebelumnya berada di Singapura Botanical Garden. Studi selanjutnya menunjukkan bila senyawa bioaktif ya, canalolide A, menunjukkan potensi besar dalam mengobati AIDS. Obat anti-HIV yang dibuat dari senyawa ini sekarang tidak lama lagi diuji klinis. Ini bisa bernilai ratusan juta dolar per tahun dan membantu meningkatkan kehidupan jutaan orang. Kisah ini penting bagi Indonesia karena hutannya menyimpan spesies yang serupa. Pada kenyataannya, hutan Indonesia mungkin mengandung banyak spesies berpotensi berharga lainnya, walaupun pemahaman kita tentang ini masih sedikit. Mengingat kekayaan hayati Indonesia - Indonesia memiliki jumlah jenis tumbuhan dan binatang terbanyak dari negara mana pun di planet ini - bukankah seharusnya pembuat kebijakan dan bisnis memberikan prioritas untuk melindungi dan memahami ekosistem hutan hujan, lahan gambut, pegunungan, terumbu karang, dan mangrove, daripada menghancurkannya untuk komoditas?


Wawancara dengan Staff Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Perubahan Iklim mengenai Inpres No 10 2011 (Moratorium Izin Usaha Baru)

(06/09/2011) da bulan Mei 2011, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Instruksi Presiden mengenai moratorium selama dua tahun, menunda konsesi baru di hutan primer dan lahan gambut. Moratorium ini bertujuan untuk menciptakan kesempatan bagi Indonesia untuk melaksanakan reformasi yang dibutuhkan untuk mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan berdasarkan Letter of Intent dengan Norwegia, yang akan memberikan hiba hingga satu miliar dolar untuk melindungi hutannya.


Dengan Moratorium Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi rendah karbon

(05/27/2011) Pada akhir 1980 di pedalaman hutan Malaysia, peneliti menemukan sejenis tanaman yang hidup dirawa gambut yang mengandung serum anti HIV. Selang setahun kemudian, ketika para peneliti itu kembali untuk mengambil contohnya, tanaman tersebut telah raib. Raibnya tanaman tersebut menimbulkan kepanikan untuk segera menyimpan spesimen yang ada secara seksama, yang kemudian contoh tanaman tersebut disimpan di Kebun Raya Singapura. Hasil studi menunjukkan bahwa senyawa bioaktif Canalolide A dari tanaman tersebut memiliki kemampuan untuk mengobati AIDS. Obat anti-HIV ini tengah diuji secara klinis, yang bisa menghasilkan ratusan juta dolar per tahun dan memperbaiki kehidupan jutaan orang. Cerita ini sangat penting bagi Indonesia, karena hutan di Indonesia merupakan rumah bagi duapertiga spesies tanaman dan hewan yang ada di permukaan bumi. Dengan anugerah kekayaan biologi yang luar biasa, Indonesia menjadi negara dengan jumlah spesies tanaman dan hewan terbanyak dimuka bumi ini.


Memberantas penebangan liar di Indonesia dengan memberikan kesempatan pada masyarakat lokal untuk mengelola hutan

(04/08/2011) Selama dua puluh tahun terakhir Indonesia telah kehilangan lebih dari 24 juta hektar hutannya, lebih luas dari Negara Inggris. Kebanyakan deforestasi dipicu oleh penebangan untuk pasar ekspor atau internasional. Data dari Bank Dunia menyebutkan, proporsi besar dari penebangan tersebut bersifat ilegal. Telapak, sebuah organisasi keanggotaan yang memiliki beberapa kantor cabang di Indonesia, mengerti permasalahan ini dengan baik. Telapak mendorong gerakan community-logging sebagai rezim baru pengelolaan hutan Indonesia. Telapak melihat pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat sebagai solusi untuk memberantas penebangan liar dan di saat yang bersamaan menciptakan sumber mata pencaharian yang berkelanjutan.


Indonesia mulai membebaskan 3 juta hektar hutan hujan di New Guinea

(03/21/2011) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia telah menyetujui konversi sekitar 3 juta hektar hutan alam di provinsi Papua, di pulau New Guinea, menurut hasil analisis baru oleh Greenomics Indonesia, sebuah kelompok lingkungan hidup.


Indonesia Menuju Pemimpin Global Dalam Pembangunan Karbon Rendah

(03/08/2011) Indonesia siap untuk berada di posisi pemimpin dalam perubahan menuju ekonomi karbon rendah, menurut seorang jurnalis lingkungan yang terkenal.


Dari Kamboja ke Kalifornia: 10 hutan yang paling terancam di dunia

(03/05/2011) Populasi yang sedang tumbuh, pertanian yang sedang berkembang, komoditi seperti minyak kelapa sawit dan kertas, penebangan hutan, perluasan perkotaan, penambangan, dan dampak-dampak manusia lainnya telah mendorong banyak hutan-hutan besar di dunia ke ambang kepunahan. Namun para ilmuwan, ahli lingkungan, dan bahkan beberapa pembuat kebijakan semakin mengingatkan bahwa hutan lebih bermanfaat apabila hutan itu masih berdiri daripada bila hutan itu ditebang. Mereka berargumentasi bahwa dengan melindungi keragaman hayati yang rentan, mengikat karbon, mengendalikan erosi, dan menyediakan air yang bersih, hutan memberikan pelayanan kepada kemanusiaan, belum lagi kemanfaatan yang tak bisa diukur bahwa kita memiliki tempat yang masih liar, di dunia yang semakin banyak dimodifikasi oleh manusia. Tetapi masih saja penurunan luas hutan dunia berlanjut: FAO memperkirakan bahwa sekitar 10 juta hektar hutan tropis menghilang setiap tahunnya. Tentu saja, sebagian dari hutan ini lebih terancam dibanding hutan lainnya, dan analisis yang baru oleh Conservation International (CI) telah menghasilkan daftar 10 hutan dunia yang paling terancam.


Apakah Menebangi Hutan Hujan untuk Kertas dan Bubur Kayu Bantu Kurangi Kemiskinan di Indonesia?

(01/21/2011) Tulisan ini diminta oleh email dari beberapa kelompok yang tampaknya (pada saat itu, dan sekarang telah dikonfirmasi) terhubung dengan Asia Pulp and Paper (APP) yang telah membuat klaim mencurigakan mengenai performa lingkungan, sosial, dan dan ekonomi dari industri kertas dan bubur kayu di Indonesia. Evaluasi atas klaim tersebut saat ini telah memunculkan pertanyaan serius akan komitmen APP pada kebersinambungan.


Satu Lagi Raksasa Pangan Dukung Kampanye Minyak Kelapa

(11/04/2010) Satu dari pembuat makanan terbesar dunia, General Mills, berjanji untuk hanya memasok dari minyak kelapa yang berkesinambungan dan bertanggungjawab dalam waktu lima tahun ini. Dengan pemberitahuan ini, General Mills menjadi raksasa pangan terbaru yang berjanji untuk menjauhi sumber minyak kelapa yang bermasalah, yang digunakan di semuanya dari makanan olahan hingga produk kesehatan dan kecantikan. Lebih awal, Nestle membuat sebuah janji yang mirip setelah kampanye media sosial yang buruk selama beberapa bulan, sementara Unilever, pembeli minyak kelapa terbesar dunia, telah bekerja sama dengan kelompok lingkungan selama bertahun-tahun.


Inisiatif Kelapa Sawit Ramah Lingkungan Cela Perusahaan Terkait Penggundulan Hutan

(11/03/2010) Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah badan yang menetapkan standar untuk produksi minyak kelapa ramah lingkungan, pada hari Kamis mengatakan bahwa produsen minyak kelapa Indonesia Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) melanggar kriteria kebersinambungannya dan menghadapi dikeluarkan sebagai anggota, menurut laporan AFP.


Penipuan: Asia Pulp & Paper dan World Growth International

(10/06/2010) Sebuah audit baru yang sepertinya membebaskan Asia Pulp & Paper dari tuduhan praktek penebangan yang merusak di Indonesia ternyata dilakukan oleh orang-orang yang sama yang terlibat dalam usaha PR mereka, ini memunculkan pertanyaan tentang komitmen perusahaan tertuduh ini dalam membersihkan operasinya.


Indonesia Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar Ke-3 Namun Pengurangan Penggundulan Hutan Tawarkan Kesempatan Besar, Kata Pemerintah

(10/01/2010) Emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia mencapai 2,1 milyar ton karbon dioksida di tahun 2005, membuatnya sebagai penghasil emisi gas rumah kaca ketiga di dunia, namun menawarkan kesempatan untuk mengurangi emisi secara substansial melalui konservasi hutan, pengurangan penggunaan api, perlindungan lahan gambut, dan manajemen hutan yang lebih baik, menurut laporan rangkaian penelitian yang dikeluarkan awal bulan ini oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) negara.


Berantas Pemburu, Lakukan Penyamaran, Selamatkan Hewan Liar: Semua dalam Satu Hari Kerja Arief Rubianto

(09/30/2010) Arief Rubianto, kepala satuan anti-perburuan di Pulau Sumatera, Indonesia, mendeskripsikan kehidupan sehari-harinya dengan ini: "seperti Mission Impossible". Tidak percaya pada saya? Rubianto telah bertarung melawan penebang liar, baku tembak dengan pemburu, berhasil bertahan selama 4 hari di hutan tanpa makanan, dan bahkan menyamar sebagai pembeli produk hewan liar ilegal - untuk memasuki operasi perburuan. Ketika banyak konservasionis bekerja dari kantor-kantor - kadang kala ribuan mil dari wilayah yang mereka perjuangkan untuk dilindungi - Rubianto bekerja di lapangan (di hutan, di banjir hujan, di bebatuan, di lautan yang tak terprediksi, dan di jam kapanpun dalam sehari), sering kali meresikokan keselamatan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan hewan-hewan liar Sumatera yang luar biasa unik dan sangat terancam.


80% Ekspansi Pertanian Tropis antara 1980-2000 Korbankan Hutan

(09/07/2010) Lebih dari 80 persen ekspansi pertanian di tropis antara tahun 1980 dan 2000 mengorbankan hutan, menurut laporan dari penelitian yang dipublikasikan minggu lalu dalam edisi online awal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).


Dapatkah Perangkap Kamera Selamatkan Kehidupan Rimba di Seluruh Dunia?

(09/06/2010) Aman untuk dikatakan bahwa perangkap kamera yang sederhana telah merevolusi konservasi kehidupan rimba. Alat unik yang sederhana ini - kamera digital otomatis yang mengambil foto dengan flash setiap seekor hewan memicu sensor infra merah - memungkinkan para ilmuwan, dengan sedikit biaya dan usaha yang relatif - paling tidak jika dibandingkan dengan menjelajahi hutan tropis dan rawa mencari kotoran dari badak yang terancam punah. Saat ini peneliti dari Wildlife Conservation Society (WCS) dan Zoological Society of London (ZSL) menggunakan fungsi perangkap kamera satu langkah lebih maju: penelitian dalam Animal Conservation menggunakan metodologi baru, dinamakan Wildlife Picture Index (WPI), untuk menganalisa tren populasi dari 26 spesies di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Pulau Sumatera Indonesia. Sementara penelitian tersebut menemukan suramnya penurunan spesies, penelitian tersebut menunjukkan potensi perangkap kamera untuk menggerakkan konservasi maju karena penggunaannya menandai pertama kalinya peneliti menggunakan perangkap kamera untuk menganalisa tren populasi jangka panjang dari banyak spesies.


Populasi Orang Utan di Daerah Hutan Asli Runtuh

(09/04/2010) Tingkat perjumpaan dengan orang utan telah jatuh enam kali lipat di Borneo selama 150 tahun ini, menurut laporan tulisan para peneliti dalam jurnal PLoS One.